preloader

REST API vs GraphQL: Apa Bedanya dan Kapan Sebaiknya Digunakan?

REST API vs GraphQL

REST API vs GraphQL merupakan dua pendekatan yang banyak digunakan dalam pengembangan aplikasi untuk menghubungkan frontend dengan backend. Keduanya memungkinkan aplikasi bertukar data dengan server, tetapi memiliki cara kerja dan pendekatan yang berbeda.

Dalam pengembangan website dan aplikasi modern, API menjadi bagian penting karena memungkinkan frontend berkomunikasi dengan backend. REST API telah lama menjadi pilihan populer, sementara GraphQL hadir dengan pendekatan yang lebih fleksibel dalam mengambil data.

Di antara berbagai pendekatan yang digunakan dalam pengembangan aplikasi, REST API menjadi salah satu yang paling populer. Namun, ada pendekatan lain yang juga banyak digunakan, yaitu GraphQL.

Keduanya sama-sama dapat digunakan untuk mengambil dan mengirim data dari server. Lalu, apa sebenarnya perbedaan REST API dan GraphQL? Dan kapan sebaiknya developer menggunakan salah satunya?

Apa Itu REST API?

REST atau Representational State Transfer adalah pendekatan dalam membangun layanan API yang menggunakan konsep resource dan HTTP method.

Dalam REST API, setiap data biasanya memiliki endpoint tertentu.

Contohnya:

GET    /api/users
GET    /api/users/10
POST   /api/users
PUT    /api/users/10
DELETE /api/users/10

HTTP method digunakan untuk menentukan jenis operasi yang dilakukan.

Beberapa method yang sering digunakan antara lain:

  • GET untuk mengambil data
  • POST untuk menambahkan data
  • PUT untuk memperbarui data
  • DELETE untuk menghapus data

REST API banyak digunakan karena konsepnya relatif mudah dipahami dan didukung oleh hampir semua bahasa pemrograman serta framework web.

Lalu, Apa Itu GraphQL?

GraphQL adalah sebuah query language untuk API sekaligus runtime yang digunakan untuk mengambil data dari server.

Berbeda dengan REST yang biasanya memiliki banyak endpoint, GraphQL dapat menggunakan satu endpoint untuk berbagai kebutuhan data.

Contohnya:

POST /graphql

Kemudian client menentukan sendiri data apa yang ingin diminta.

Misalnya:

query {
  user(id: 10) {
    name
    email
  }
}

Server kemudian mengembalikan data sesuai dengan field yang diminta oleh client.

Konsep ini membuat client memiliki kontrol yang lebih besar terhadap data yang ingin diterima.

Perbedaan REST API dan GraphQL

Perbedaan utama keduanya dapat dilihat dari cara client meminta data.

1. Struktur Endpoint

REST biasanya memiliki beberapa endpoint berdasarkan resource.

Contoh:

/api/users
/api/products
/api/orders

Sementara GraphQL umumnya menggunakan satu endpoint:

/api/graphql

2. Cara Mengambil Data

Pada REST, response dari endpoint biasanya sudah ditentukan oleh server.

Misalnya client hanya membutuhkan nama pengguna, tetapi endpoint mengembalikan:

{
  "id": 10,
  "name": "Andi",
  "email": "andi@email.com",
  "phone": "08123456789",
  "address": "Bandar Lampung"
}

Padahal client mungkin hanya membutuhkan name.

GraphQL memungkinkan client meminta field tertentu saja:

query {
  user(id: 10) {
    name
  }
}

Dengan demikian, response dapat dibuat lebih sesuai dengan kebutuhan aplikasi.

3. Penggunaan Data yang Kompleks

REST cukup nyaman digunakan untuk aplikasi dengan struktur data yang sederhana dan endpoint yang jelas.

Namun, ketika aplikasi memiliki hubungan data yang kompleks, GraphQL dapat memberikan pendekatan yang lebih fleksibel.

Contohnya aplikasi e-commerce.

Satu halaman produk mungkin membutuhkan:

  • informasi produk
  • kategori
  • penjual
  • rating
  • review
  • stok

Dengan GraphQL, client dapat meminta berbagai data tersebut dalam satu query.

4. Caching

REST memiliki keuntungan karena pola request menggunakan HTTP dapat bekerja dengan mekanisme caching yang sudah umum digunakan.

GraphQL juga dapat menggunakan caching, tetapi implementasinya membutuhkan pendekatan tambahan karena banyak request dapat menggunakan endpoint yang sama.

Karena itu, developer perlu mempertimbangkan strategi caching sejak awal ketika menggunakan GraphQL.

REST API vs GraphQL: Mana yang Harus Digunakan?

Tidak ada satu pilihan yang selalu cocok untuk semua proyek.

REST API dapat menjadi pilihan ketika:

  • aplikasi memiliki struktur endpoint yang jelas
  • kebutuhan data relatif sederhana
  • tim sudah terbiasa dengan REST
  • ingin memanfaatkan mekanisme HTTP secara langsung
  • aplikasi membutuhkan API yang mudah dipahami oleh banyak developer

Sementara GraphQL dapat dipertimbangkan ketika:

  • client membutuhkan data yang sangat fleksibel
  • aplikasi memiliki banyak hubungan antar-data
  • terdapat banyak jenis client seperti web dan mobile
  • developer ingin client menentukan field yang dibutuhkan
  • kebutuhan pengambilan data cukup kompleks

Contoh Sederhana dalam Pengembangan Aplikasi

Misalnya kita membuat aplikasi toko online.

Dengan REST API, kita mungkin memiliki endpoint:

GET /products
GET /products/10
GET /products/10/reviews
GET /categories/5

Frontend kemudian melakukan beberapa request untuk mendapatkan data yang diperlukan.

Dengan GraphQL, client dapat membuat satu query seperti:

query {
  product(id: 10) {
    name
    price
    category {
      name
    }
    reviews {
      rating
      comment
    }
  }
}

Client dapat meminta struktur data yang dibutuhkan dalam satu query.

Namun, fleksibilitas tersebut juga berarti developer perlu memperhatikan desain schema, keamanan query, caching, dan performa server.

Kesimpulan

REST API dan GraphQL sama-sama dapat digunakan untuk membangun komunikasi antara frontend dan backend.

REST memiliki pendekatan yang sederhana dengan endpoint dan HTTP method, sedangkan GraphQL memberikan fleksibilitas kepada client untuk menentukan data yang ingin diambil.

Untuk proyek sederhana dengan kebutuhan API yang jelas, REST dapat menjadi pendekatan yang praktis. Sementara untuk aplikasi dengan kebutuhan data yang lebih kompleks dan beragam, GraphQL dapat memberikan fleksibilitas tambahan.

Yang paling penting bukan sekadar memilih teknologi yang sedang populer, tetapi menyesuaikannya dengan kebutuhan aplikasi, struktur data, kemampuan tim, keamanan, serta kompleksitas proyek.

Dengan memahami perbedaan keduanya, developer dapat menentukan pendekatan API yang lebih sesuai sebelum mulai membangun aplikasi.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *