Usability testing adalah cara menguji apakah pengguna sungguhan bisa memakai aplikasi tanpa bingung, dan sebaiknya dilakukan sebelum peluncuran aplikasi. Banyak tim sibuk menyelesaikan fitur, lalu merilis aplikasi dengan keyakinan bahwa semuanya sudah jelas. Namun, tim yang membangun aplikasi justru orang yang paling sulit melihat hambatannya, karena mereka sudah terlalu paham cara kerjanya.
Akibatnya, masalah sederhana lolos ke tangan pengguna. Tombol yang tidak terlihat, istilah yang membingungkan, atau langkah pendaftaran yang terasa buntu membuat orang berhenti di tengah jalan. Padahal, masalah seperti itu sering bisa ditemukan hanya dengan mengamati beberapa orang mencoba aplikasi Anda sebelum dirilis.
Artikel ini menjelaskan apa itu usability testing, mengapa penting sebelum peluncuran aplikasi, jenis-jenisnya, tujuh langkah melakukannya, dan jumlah peserta yang dibutuhkan. Selain itu, Anda akan menemukan contoh skenario uji, metrik yang bisa dicatat, dan kesalahan umum yang perlu dihindari.

Daftar Isi
- Apa itu usability testing
- Mengapa usability testing penting sebelum peluncuran aplikasi
- Jenis usability testing
- 7 langkah usability testing sebelum peluncuran aplikasi
- Berapa peserta yang dibutuhkan
- Metrik yang bisa dicatat
- Kesalahan umum dalam usability testing
- Daftar periksa sebelum peluncuran aplikasi
- Kesimpulan
Apa Itu Usability Testing dan Apa yang Diuji?
Usability testing adalah metode riset yang meminta calon pengguna menyelesaikan tugas nyata pada aplikasi, sementara tim mengamati dan mencatat kesulitan yang muncul. Tujuannya bukan menilai pengguna, melainkan menilai seberapa mudah aplikasi dipakai. Jika pengguna gagal, yang dievaluasi adalah desainnya.
Umumnya, uji ini melihat tiga hal. Pertama, efektivitas, yaitu apakah pengguna berhasil menyelesaikan tugas. Kedua, efisiensi, yaitu seberapa cepat dan seberapa banyak langkah yang mereka butuhkan. Ketiga, kepuasan, yaitu bagaimana perasaan mereka saat memakai aplikasi.
Perlu dibedakan dari pengujian lain. Quality assurance memeriksa apakah fitur berfungsi sesuai spesifikasi. Analitik menunjukkan apa yang dilakukan pengguna setelah rilis. Sementara itu, usability testing menjelaskan mengapa pengguna kesulitan, dan dapat dilakukan sebelum aplikasi sampai ke publik.
Mengapa Usability Testing Penting sebelum Peluncuran Aplikasi?
- Memperbaiki lebih murah sebelum rilis. Mengubah prototipe jauh lebih ringan daripada mengubah aplikasi yang sudah dipakai ribuan orang.
- Tim mudah buta terhadap masalahnya sendiri. Orang luar melihat hal yang tidak terlihat oleh orang dalam.
- Mencegah pengguna pergi di awal. Hambatan di pendaftaran dan langkah pertama sering menentukan apakah pengguna bertahan, seperti dibahas di Mengapa Pengguna Meninggalkan Aplikasi Tanpa Menyelesaikan Proses Registrasi?.
- Melindungi reputasi. Ulasan buruk di awal peluncuran sulit dihapus dan memengaruhi calon pengguna lain.
- Keputusan berbasis bukti. Perdebatan tentang desain bisa diselesaikan dengan melihat perilaku pengguna sebenarnya.
- Meningkatkan peluang konversi. Halaman dan alur yang mudah dipahami membantu pengguna mencapai tujuan, seperti dibahas di Landing Page: Pengertian, Elemen, dan Cara Membuatnya.
Jenis Usability Testing
Ada beberapa cara melakukan uji ini. Pilihan terbaik bergantung pada waktu, anggaran, dan tahap pengembangan Anda.
| Jenis | Cara Kerja | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| Moderated (dipandu) | Fasilitator mendampingi peserta secara langsung atau lewat panggilan video | Bisa menggali alasan lewat pertanyaan lanjutan | Butuh waktu dan jadwal |
| Unmoderated (mandiri) | Peserta mengerjakan tugas sendiri sambil direkam | Lebih cepat dan fleksibel | Tidak bisa bertanya saat itu juga |
| Tatap muka | Sesi di satu tempat dengan pengamat | Bahasa tubuh terlihat jelas | Lokasi dan biaya |
| Jarak jauh | Sesi lewat video dan berbagi layar | Jangkauan peserta lebih luas | Bergantung pada koneksi |
| Pada prototipe | Menguji desain interaktif sebelum kode dibuat | Perubahan murah dan cepat | Tidak menguji performa nyata |
Untuk aplikasi yang akan dirilis, kombinasi yang umum adalah menguji prototipe lebih awal, lalu menguji versi hampir jadi menjelang peluncuran.
7 Langkah Usability Testing sebelum Peluncuran Aplikasi
1. Tetapkan Tujuan dan Pertanyaan
Mulailah dari hal yang ingin Anda ketahui. Contohnya, “Apakah pengguna baru bisa mendaftar dan memesan tanpa bantuan?” Tujuan yang spesifik membuat tugas dan analisis lebih terarah. Tujuan yang terlalu luas, seperti “Apakah aplikasinya bagus?”, sulit dijawab.
2. Pilih Peserta yang Mewakili Pengguna Nyata
Rekrut orang yang mirip calon pengguna Anda, bukan rekan setim atau keluarga dekat. Mereka perlu sebenarnya membutuhkan aplikasi seperti ini. Jika aplikasi Anda melayani beberapa kelompok, misalnya pelanggan dan admin, rekrut dari tiap kelompok.
3. Susun Skenario Tugas yang Realistis
Beri tugas berbentuk situasi, bukan petunjuk langkah demi langkah. Katakan “Anda ingin memesan satu produk ke rumah”, bukan “Tekan tombol keranjang lalu pilih bayar”. Berikut contoh templat yang bisa Anda sesuaikan.
Tujuan uji:
Memastikan pengguna baru dapat mendaftar dan memesan tanpa bantuan.
Skenario 1:
"Anda baru mengunduh aplikasi ini dan ingin membuat akun."
Berhasil jika: akun selesai dibuat tanpa bantuan fasilitator.
Skenario 2:
"Pesan satu produk untuk dikirim ke alamat rumah Anda."
Berhasil jika: pesanan terkirim tanpa bantuan fasilitator.
Pertanyaan penutup:
- Bagian mana yang paling membingungkan?
- Apa yang Anda harapkan terjadi, tetapi tidak terjadi?
- Seberapa mudah aplikasi ini dipakai menurut Anda?
4. Siapkan Prototipe atau Versi Uji
Gunakan prototipe interaktif atau build yang sudah cukup lengkap untuk menyelesaikan tugas. Pastikan data uji sudah tersedia dan perangkat yang dipakai sesuai dengan kebiasaan pengguna, termasuk ponsel dengan spesifikasi sederhana. Pelajari juga pertimbangan perangkat seluler di Mobile-First Design: Mengapa Desain Website Harus Memprioritaskan Pengguna Smartphone?.
5. Jalankan Sesi dengan Pengamatan yang Netral
Minta peserta berpikir sambil bersuara (think aloud), yaitu menceritakan apa yang mereka lihat, harapkan, dan bingungkan. Fasilitator tidak boleh membantu atau menjelaskan antarmuka saat sesi berlangsung. Jika peserta tersangkut, catat di mana dan berapa lama, lalu tanyakan alasannya setelah tugas selesai. Rekam layar dan suara dengan izin peserta.
6. Catat dan Analisis Temuan
Kumpulkan semua masalah dalam satu daftar. Hitung berapa banyak peserta yang mengalami tiap masalah, lalu nilai tingkat keparahannya. Tabel berikut adalah contoh format sederhana.
| Masalah | Peserta yang Mengalami | Keparahan | Tindakan |
|---|---|---|---|
| Tombol daftar tidak terlihat | 4 dari 5 | Tinggi | Perbesar dan ubah warna tombol |
| Istilah “checkout” membingungkan | 2 dari 5 | Sedang | Ganti dengan “Bayar Sekarang” |
| Layar sedikit tersendat saat memuat | 1 dari 5 | Rendah | Selidiki performa, lihat catatan kecepatan |
Prioritaskan masalah yang paling sering muncul dan paling parah. Jika temuan menyangkut kecepatan, rujuk Website Lambat? 9 Penyebab dan Cara Mengatasinya.
7. Perbaiki, Lalu Uji Ulang
Perbaiki masalah prioritas, kemudian uji lagi dengan peserta baru. Perbaikan bisa menimbulkan masalah baru, dan uji ulang membuktikan bahwa perubahan Anda benar-benar membantu. Jika temuan menunjukkan perlunya perombakan besar, baca Redesign Aplikasi Tanpa Kehilangan Identitas Brand: Apa yang Perlu Diperhatikan?.

Berapa Peserta yang Dibutuhkan untuk Usability Testing?
Jumlahnya lebih kecil dari yang banyak orang kira. Menurut artikel Nielsen Norman Group tentang pengujian dengan lima pengguna, studi pertama dengan lima peserta menemukan sekitar 85% masalah kegunaan. Artikel itu juga menyebut bahwa dibutuhkan sekitar 15 pengguna untuk menemukan hampir semua masalah, tetapi lebih baik membagi anggaran menjadi tiga studi dengan masing-masing lima pengguna, karena Anda bisa memperbaiki dan menguji ulang di antaranya.
Ada syarat penting. Rumus itu berlaku untuk pengguna yang serupa. Jika aplikasi melayani beberapa kelompok yang sangat berbeda, Nielsen menyarankan 3 sampai 4 pengguna per kelompok untuk dua kelompok, dan sedikitnya 3 pengguna per kelompok jika ada tiga kelompok atau lebih. Selain itu, angka lima cocok untuk temuan kualitatif. Jika Anda ingin mengukur angka secara kuantitatif, misalnya persentase keberhasilan yang bisa dibandingkan, Anda membutuhkan peserta yang lebih banyak.
Metrik yang Bisa Dicatat dalam Usability Testing
Meski uji ini bersifat kualitatif, beberapa angka sederhana membantu Anda membandingkan hasil antarputaran:
- Tingkat keberhasilan tugas. Berapa peserta yang menyelesaikan tugas tanpa bantuan.
- Waktu penyelesaian. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tiap tugas.
- Jumlah kesalahan. Berapa kali peserta salah ketuk atau salah jalur.
- Titik tersangkut. Di layar mana peserta paling sering berhenti.
- Kepuasan yang dilaporkan. Penilaian peserta lewat pertanyaan singkat atau kuesioner standar seperti System Usability Scale.
Gunakan angka ini sebagai petunjuk, bukan kebenaran mutlak. Dengan sedikit peserta, satu orang bisa mengubah persentase secara drastis. Pengamatan perilaku tetap menjadi sumber wawasan utama.
Kesalahan Umum dalam Usability Testing
- Menguji dengan tim sendiri. Mereka sudah tahu cara kerja aplikasi, sehingga hasilnya bias.
- Mengajukan pertanyaan yang mengarahkan. “Bagus, kan?” menghasilkan jawaban sopan, bukan jujur.
- Membantu peserta saat tersangkut. Padahal di momen itulah masalah terlihat.
- Membuat tugas yang tidak realistis. Tugas harus menyerupai kebutuhan nyata pengguna.
- Tidak merekam atau mencatat. Ingatan fasilitator tidak cukup untuk analisis.
- Menguji terlalu terlambat. Temuan besar sulit diperbaiki jika uji dilakukan sehari sebelum rilis.
- Mengabaikan temuan. Uji tanpa tindak lanjut hanya menghabiskan waktu.
- Tidak menguji ulang. Perbaikan perlu dibuktikan, bukan diasumsikan.

Daftar Periksa sebelum Peluncuran Aplikasi
- Apakah tujuan uji sudah jelas dan spesifik?
- Apakah peserta mewakili calon pengguna nyata?
- Apakah skenario tugas realistis dan tidak menggurui?
- Apakah prototipe atau versi uji dapat menyelesaikan seluruh tugas?
- Apakah sesi direkam dengan izin peserta?
- Apakah temuan dicatat beserta frekuensi dan tingkat keparahannya?
- Apakah masalah prioritas sudah diperbaiki?
- Apakah uji ulang sudah dilakukan setelah perbaikan?
Kesimpulan: Usability Testing Membuat Peluncuran Aplikasi Lebih Siap
Usability testing membantu Anda melihat aplikasi dari mata pengguna sungguhan sebelum peluncuran. Dengan tujuan yang jelas, peserta yang tepat, skenario realistis, dan pengamatan yang netral, tim dapat menemukan hambatan yang tidak terlihat dari dalam. Lima peserta untuk satu kelompok pengguna sudah cukup untuk menemukan sebagian besar masalah utama, dan uji ulang memastikan perbaikannya berhasil.
Mulailah dari yang kecil. Pilih satu alur paling penting, seperti pendaftaran atau pemesanan, lalu uji dengan lima orang sebelum rilis. Perbaiki yang paling parah, lalu ulangi. Langkah sederhana ini sering menyelamatkan aplikasi dari kegagalan di hari pertama.
Butuh mitra untuk merancang dan menguji aplikasi sebelum diluncurkan? Tim kami siap membantu lewat layanan pengembangan aplikasi dan website Powercode.
Artikel Menarik Lainnya di Blog Powercode
Lanjutkan membaca topik teknologi lain yang relevan untuk bisnis dan tim pengembang Anda:
- Mengapa Pengguna Meninggalkan Aplikasi Tanpa Menyelesaikan Proses Registrasi?
- Mobile-First Design: Mengapa Desain Website Harus Memprioritaskan Pengguna Smartphone?
- Landing Page: Pengertian, Elemen, dan Cara Membuatnya
- Website Lambat? 9 Penyebab dan Cara Mengatasinya
- Redesign Aplikasi Tanpa Kehilangan Identitas Brand: Apa yang Perlu Diperhatikan?
- Zero Trust Security: Pendekatan Keamanan yang Perlu Dipahami Bisnis Digital

