1. Pilih Platform / Teknologi yang Tepat
Ini langkah paling awal. Kalau kamu bukan developer, bisa pakai CMS kayak WordPress karena praktis, banyak theme yang udah responsif, dan bisa ditambah plugin buat optimasi kecepatan.
Kalau kamu lebih suka coding sendiri, pilih framework atau library yang ringan kayak Next.js, Nuxt.js, atau langsung HTML + Tailwind CSS.
Intinya, pilih sesuai kebutuhan dan kemampuan. Website builder (misalnya Webflow atau Wix) juga bisa, tapi biasanya kurang fleksibel soal performa.
2. Desain Responsif Sejak Awal
Website harus bisa menyesuaikan ukuran layar otomatis.
- Gunakan CSS framework (Tailwind / Bootstrap) supaya layout udah otomatis fleksibel.
- Pasang viewport meta tag biar browser ngerti kalau desainnya harus menyesuaikan ke layar kecil:
<meta name="viewport" content="width=device-width, initial-scale=1.0"> - Jangan pakai ukuran fix (px) untuk semua elemen, tapi lebih baik pakai persentase, em, atau rem. Jadi tampilannya tetap proporsional di layar besar maupun kecil.
3. Optimasi Gambar & Media
Gambar biasanya bikin website jadi lambat. Jadi:
- Kompres ukuran gambar sebelum upload (pakai TinyPNG, Squoosh, atau plugin seperti Smush kalau WordPress).
- Gunakan format modern seperti WebP atau AVIF yang kualitasnya bagus tapi ukurannya kecil.
- Terapkan lazy loading biar gambar baru dimuat saat pengguna scroll ke bawah, bukan semua di-load di awal.
4. Kurangi Beban CSS & JavaScript
Website jadi lemot biasanya karena kebanyakan script.
- Hapus CSS & JS yang gak dipakai.
- Satukan (bundle) file supaya request ke server lebih sedikit.
- Minify (dipadatkan) biar ukurannya kecil.
Kalau pakai WordPress, plugin seperti Autoptimize atau LiteSpeed Cache bisa bantu.
Kalau pakai coding manual, bisa pakai Vite atau Webpack buat optimasi.
5. Hosting & Server yang Cepat
Percuma desain bagus kalau hosting-nya lambat. Pilih hosting yang pakai SSD, RAM cukup, dan server dekat dengan target audiens (misalnya target Indo → pilih server Singapura).
Tambahkan juga CDN (Content Delivery Network) seperti Cloudflare, supaya konten diakses lebih cepat dari lokasi mana pun.
6. Caching (Biar Akses Lebih Cepat)
Caching itu bikin website nyimpen salinan data, jadi kalau pengunjung buka lagi, gak perlu loading ulang semua.
- Server-side cache → LiteSpeed Cache, WP Rocket.
- Browser cache → atur di server biar browser pengunjung nyimpen file statis (gambar, CSS, JS).
7. Testing & Analisis Kecepatan
Setelah website jadi, jangan lupa dites.
- Gunakan Google PageSpeed Insights → lihat skor mobile dan desktop.
- Cek juga di GTMetrix atau Lighthouse.
Kalau ada warning seperti “Reduce unused JavaScript” atau “Eliminate render-blocking resources”, coba perbaiki sesuai saran.
Target: skor mobile di atas 80 udah cukup bagus.
8. Mobile UX (User Experience)
Website yang responsif belum tentu nyaman dipakai di HP. Jadi perhatikan:
- Tombol jangan kecil, minimal 44x44px biar gampang di-tap.
- Font jangan terlalu kecil, minimal 16px.
- Navigasi harus simple → biasanya pakai hamburger menu.
- Pastikan ada cukup spasi antara teks & tombol biar gak keteken salah.
9. Contoh Alur Simpel Bikin Website Mobile Friendly
- Tentukan platform (WordPress / HTML + Tailwind).
- Buat desain responsif dengan framework CSS.
- Tambahkan konten (gambar dikompres, teks jelas, navigasi gampang).
- Optimasi performa (CSS/JS minify, caching, CDN).
- Uji kecepatan di PageSpeed & perbaiki sesuai rekomendasi.
Simak artikel kami yang lain di bawah ini :
- Apa itu Node.js? Pengertian,Fungsi,kelebihan dan kekurangannya. Simaklah berikut ini!
- tips Cara mencegah laptop anda overheating!
- Apa it SQL? Pengertian dan fungsi nya.
- Sejarah Munculnya CPU (Central Processing Unit)
- Apa itu Vue.js? Berikut Pengertian, Fitur, dan Kelebihan dan Kekurangan nya!
Ingin membuat sebuah Website tapi bingung cara bikin nya? tenang Powercode Solusi nya! Pembuatan website anda akan ditangani oleh programmer terbaik kami Silahkan kunjungi pembuatan Website Kami.


