Landing page menjadi salah satu bagian penting dalam strategi digital. Halaman ini biasanya dibuat untuk mengarahkan pengunjung melakukan tindakan tertentu, seperti membeli produk, mendaftar layanan, mengisi formulir, menghubungi bisnis, atau mengunduh sesuatu.
Namun, landing page yang efektif bukan hanya tentang memasang gambar bagus dan tombol berwarna mencolok. Desain UI/UX yang tepat diperlukan agar pengunjung dapat memahami informasi dengan cepat dan tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Bayangkan seseorang membuka landing page selama beberapa detik. Jika headline tidak jelas, tampilan terlalu ramai, atau tombol sulit ditemukan, mereka bisa langsung meninggalkan halaman.
Lalu, bagaimana cara membuat landing page yang menarik dengan prinsip UI/UX? Simak panduan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Landing Page?
Landing page adalah halaman khusus yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Berbeda dengan halaman website biasa yang dapat memiliki banyak fungsi, landing page biasanya memiliki satu tujuan utama.
Contohnya:
- Mempromosikan produk.
- Menawarkan jasa.
- Mengumpulkan data calon pelanggan.
- Mempromosikan event.
- Mengajak pengguna melakukan pendaftaran.
- Menjual produk tertentu.
- Mengarahkan pengunjung menghubungi bisnis.
Karena memiliki tujuan yang spesifik, setiap elemen pada landing page sebaiknya mendukung tujuan tersebut.
Mengapa UI/UX Penting untuk Landing Page?
UI/UX memiliki peran besar dalam menentukan apakah landing page mudah dipahami dan nyaman digunakan.
UI (User Interface) berhubungan dengan tampilan visual, seperti warna, font, tombol, gambar, dan layout.
Sementara UX (User Experience) berhubungan dengan pengalaman pengunjung ketika menggunakan halaman tersebut.
Landing page yang baik harus mampu menjawab beberapa pertanyaan sederhana:
- Apa yang ditawarkan?
- Apa manfaatnya?
- Mengapa pengunjung harus memilihnya?
- Apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Jika pengunjung mendapatkan jawaban tersebut dengan cepat, peluang mereka melakukan tindakan yang diharapkan akan semakin baik.
Cara Membuat Landing Page yang Menarik dengan Prinsip UI/UX
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk membuat landing page yang menarik sekaligus mudah digunakan.
1. Tentukan Tujuan Landing Page
Langkah pertama adalah menentukan tujuan halaman.
Jangan membuat landing page tanpa mengetahui tindakan utama yang ingin dilakukan pengunjung.
Misalnya, tujuan landing page adalah:
“Mengajak pengunjung mendaftar kursus online.”
Maka elemen utama halaman harus mendukung tujuan tersebut.
Mulai dari headline, informasi manfaat, testimonial, hingga tombol pendaftaran harus mengarahkan pengguna pada tujuan yang sama.
Contoh CTA:
“Daftar Sekarang”
atau
“Mulai Belajar Gratis”
Dengan tujuan yang jelas, desain landing page akan menjadi lebih fokus.
2. Kenali Target Pengguna
Landing page untuk pelajar tentu memiliki pendekatan yang berbeda dengan landing page untuk pemilik bisnis.
Sebelum mendesain, cari tahu siapa target pengguna.
Pertimbangkan:
- Usia.
- Kebutuhan.
- Masalah yang mereka hadapi.
- Tujuan mereka.
- Bahasa yang mudah mereka pahami.
- Perangkat yang biasa digunakan.
Semakin memahami target pengguna, semakin mudah membuat desain dan konten yang relevan.
3. Buat Headline yang Singkat dan Menarik
Headline adalah salah satu bagian pertama yang dilihat pengunjung.
Karena itu, jangan membuat headline terlalu panjang atau membingungkan.
Headline yang baik sebaiknya langsung menjelaskan apa yang ditawarkan dan manfaat utamanya.
Contoh kurang efektif:
“Kami menyediakan berbagai macam layanan yang dapat membantu kebutuhan Anda.”
Contoh yang lebih jelas:
“Servis Laptop Cepat dan Profesional untuk Kebutuhan Anda.”
Pengunjung dapat langsung memahami apa yang ditawarkan.
4. Gunakan Subheadline untuk Memperjelas Pesan
Jika headline bertugas menarik perhatian, subheadline membantu memberikan informasi tambahan.
Contohnya:
Headline:
Servis Laptop Cepat dan Profesional
Subheadline:
“Perbaikan laptop, komputer, dan printer dengan teknisi berpengalaman.”
Kombinasi tersebut membuat informasi lebih mudah dipahami tanpa harus membaca paragraf panjang.
5. Gunakan Visual yang Relevan
Gambar dapat membantu menjelaskan produk atau layanan dengan lebih cepat.
Namun, jangan menggunakan gambar hanya karena terlihat bagus.
Pilih visual yang benar-benar berkaitan dengan isi landing page.
Misalnya, jika menawarkan jasa desain UI/UX, gunakan visual seperti:
- Tampilan website.
- Mockup aplikasi.
- Wireframe.
- Prototype.
- Ilustrasi proses desain.
Visual yang relevan akan membantu memperkuat pesan yang ingin disampaikan.
6. Gunakan Visual Hierarchy
Visual hierarchy adalah cara mengatur elemen berdasarkan tingkat kepentingannya.
Elemen yang paling penting harus mendapatkan perhatian lebih besar.
Contohnya:
Headline
↓
Penjelasan singkat
↓
CTA
↓
Informasi pendukung
Kamu dapat menggunakan ukuran font, posisi, spacing, dan kontras untuk membedakan tingkat kepentingan setiap elemen.
Dengan hierarchy yang baik, mata pengguna akan mengikuti alur informasi secara lebih natural.
7. Buat Tombol CTA yang Jelas
CTA atau Call to Action merupakan elemen penting dalam landing page.
CTA memberi tahu pengguna tindakan apa yang harus dilakukan.
Contohnya:
- Daftar Sekarang.
- Beli Sekarang.
- Konsultasi Gratis.
- Hubungi Kami.
- Coba Gratis.
- Download Sekarang.
Gunakan kalimat yang singkat dan mudah dipahami.
Hindari CTA yang terlalu umum seperti “Klik di Sini” jika bisa diganti dengan tindakan yang lebih jelas.
Contohnya:
“Pesan Sekarang”
lebih informatif dibandingkan:
“Klik di Sini”
8. Jangan Menggunakan Terlalu Banyak CTA Berbeda
CTA memang penting, tetapi bukan berarti setiap bagian halaman harus memiliki tombol dengan tujuan berbeda.
Terlalu banyak pilihan dapat membuat pengguna bingung.
Jika tujuan utama landing page adalah pendaftaran, prioritaskan CTA:
“Daftar Sekarang”
Gunakan CTA tersebut secara konsisten pada beberapa bagian yang relevan.
9. Gunakan Warna Secara Konsisten
Warna dapat membantu membangun identitas visual sekaligus menunjukkan elemen penting.
Pilih beberapa warna utama dan gunakan secara konsisten.
Misalnya:
- Warna utama untuk branding.
- Warna sekunder untuk elemen pendukung.
- Warna khusus untuk CTA.
Hindari menggunakan terlalu banyak warna tanpa tujuan karena dapat membuat tampilan terasa berantakan.
10. Pilih Font yang Mudah Dibaca
Tipografi memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan membaca.
Gunakan font yang jelas dan mudah dibaca, terutama untuk paragraf panjang.
Perhatikan:
- Ukuran font.
- Ketebalan.
- Jarak antarbaris.
- Jarak antarparagraf.
- Kontras dengan background.
Landing page yang memiliki desain bagus tetapi sulit dibaca tetap akan memberikan pengalaman pengguna yang kurang baik.
11. Buat Layout yang Sederhana
Landing page tidak perlu dipenuhi berbagai elemen.
Gunakan ruang kosong atau white space untuk memberikan jarak antarbagian.
White space dapat membantu:
- Memisahkan informasi.
- Membuat halaman lebih rapi.
- Menonjolkan CTA.
- Membantu pengguna fokus.
- Meningkatkan keterbacaan.
Ingat, ruang kosong bukan berarti ruang yang sia-sia.
12. Tampilkan Manfaat, Bukan Hanya Fitur
Kesalahan yang sering dilakukan adalah hanya menjelaskan fitur produk.
Padahal, pengguna biasanya lebih tertarik mengetahui apa manfaat yang mereka dapatkan.
Contohnya:
Fitur:
“Backup data otomatis.”
Manfaat:
“Data penting tetap lebih aman dan mudah dipulihkan ketika dibutuhkan.”
Manfaat memberikan alasan yang lebih jelas mengapa pengguna membutuhkan produk atau layanan tersebut.
13. Gunakan Social Proof
Pengunjung baru mungkin masih ragu terhadap produk atau layanan yang ditawarkan.
Social proof dapat membantu meningkatkan kepercayaan.
Contohnya:
- Testimonial pelanggan.
- Rating.
- Jumlah pengguna.
- Logo klien.
- Studi kasus.
- Review.
Namun, pastikan informasi yang ditampilkan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
14. Buat Navigasi yang Tidak Membingungkan
Tidak semua landing page membutuhkan navigasi yang kompleks.
Jika tujuan halaman sangat spesifik, gunakan navigasi yang sederhana agar pengguna tetap fokus.
Misalnya:
Home | Fitur | Manfaat | Testimonial | Kontak
Hindari menambahkan terlalu banyak menu yang tidak berkaitan dengan tujuan utama landing page.
15. Pastikan Landing Page Responsif
Saat ini pengunjung dapat menggunakan berbagai perangkat untuk mengakses website.
Karena itu, responsive design sangat penting.
Landing page harus tetap nyaman digunakan ketika dibuka melalui:
- Smartphone.
- Tablet.
- Laptop.
- Desktop.
Periksa ukuran teks, tombol, gambar, dan jarak antar elemen pada berbagai ukuran layar.
16. Perhatikan Kecepatan Loading
Desain yang menarik akan kurang efektif jika halaman membutuhkan waktu lama untuk dibuka.
Optimalkan berbagai elemen seperti:
- Ukuran gambar.
- File CSS.
- File JavaScript.
- Font.
- Animasi.
Gunakan gambar dengan ukuran yang sesuai dan hindari memasukkan elemen berat yang tidak diperlukan.
17. Buat Formulir Sesederhana Mungkin
Jika landing page memiliki formulir, jangan meminta terlalu banyak informasi.
Misalnya, jika hanya membutuhkan kontak calon pelanggan, cukup gunakan:
Nama
Nomor WhatsApp
Email
Semakin banyak kolom yang tidak diperlukan, semakin besar kemungkinan pengguna enggan mengisinya.
18. Berikan Informasi yang Meyakinkan
Landing page sebaiknya tidak hanya mengatakan bahwa produk atau layanan kamu bagus.
Berikan alasan yang membuat pengunjung percaya.
Misalnya:
- Keunggulan layanan.
- Proses kerja.
- Garansi.
- Testimonial.
- Portofolio.
- Informasi kontak.
- Pertanyaan yang sering ditanyakan.
Informasi tersebut dapat membantu mengurangi keraguan sebelum pengguna mengambil keputusan.
Struktur Landing Page yang Bisa Digunakan
Berikut contoh struktur sederhana yang dapat dijadikan referensi:
┌─────────────────────────────────────┐
│ LOGO MENU CTA │
├─────────────────────────────────────┤
│ │
│ HEADLINE UTAMA │
│ Penjelasan singkat │
│ [ CTA UTAMA ] │
│ │
├─────────────────────────────────────┤
│ MASALAH PENGGUNA │
│ Jelaskan masalah yang ada │
├─────────────────────────────────────┤
│ SOLUSI / MANFAAT │
│ [Manfaat 1] [Manfaat 2] [Manfaat3]│
├─────────────────────────────────────┤
│ PRODUK │
│ Gambar + Penjelasan │
├─────────────────────────────────────┤
│ TESTIMONIAL │
│ “Review dari pengguna” │
├─────────────────────────────────────┤
│ CALL TO ACTION │
│ [ DAFTAR SEKARANG ] │
├─────────────────────────────────────┤
│ FOOTER │
└─────────────────────────────────────┘
Struktur tersebut dapat disesuaikan dengan jenis bisnis dan tujuan landing page.
Contoh Landing Page untuk Jasa Service Komputer
Misalnya kamu ingin membuat landing page untuk layanan service komputer.
Bagian Hero
Laptop Bermasalah? Kami Siap Membantu!
“Layanan service laptop, komputer, dan printer untuk membantu perangkat kembali bekerja dengan optimal.”
[ Hubungi Kami ]
Bagian Layanan
Layanan yang Tersedia
- Service Laptop.
- Service Komputer.
- Service Printer.
- Instalasi Software.
- Perawatan Perangkat.
Bagian Keunggulan
Mengapa Memilih Kami?
- Teknisi berpengalaman.
- Proses pemeriksaan jelas.
- Layanan sesuai kebutuhan.
- Konsultasi sebelum perbaikan.
Bagian CTA
Butuh Bantuan dengan Perangkatmu?
“Hubungi kami dan konsultasikan masalah perangkat yang kamu alami.”
[ Konsultasi Sekarang ]
Dengan struktur tersebut, pengunjung dapat memahami layanan tanpa harus membaca halaman yang terlalu panjang.
Tools untuk Membuat Landing Page
Setelah rancangan UI/UX selesai, kamu dapat menggunakan berbagai tools untuk membuat landing page.
Figma
Figma cocok digunakan untuk membuat:
- Wireframe.
- Mockup.
- Prototype.
- Design system.
WordPress
WordPress dapat digunakan untuk membangun website tanpa harus membuat semuanya dari awal menggunakan kode.
HTML dan CSS
Jika ingin membangun landing page secara manual, HTML dapat digunakan untuk struktur halaman, sedangkan CSS digunakan untuk mengatur tampilannya.
JavaScript
JavaScript dapat ditambahkan jika landing page membutuhkan interaksi tertentu.
Kesalahan yang Harus Dihindari
Membuat landing page menarik bukan berarti menambahkan sebanyak mungkin elemen.
Hindari beberapa kesalahan berikut:
Terlalu Banyak Informasi
Pengunjung dapat merasa kewalahan jika halaman dipenuhi paragraf panjang.
CTA Tidak Jelas
Pengguna tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan.
Warna Terlalu Banyak
Tampilan menjadi kurang konsisten dan sulit fokus.
Gambar Tidak Relevan
Visual yang tidak berhubungan dengan produk justru dapat mengganggu pesan.
Tidak Responsif
Landing page terlihat bagus di desktop tetapi berantakan di smartphone.
Tidak Melakukan Testing
Jangan menganggap desain sudah sempurna sebelum dicoba oleh pengguna.
Tips Agar Landing Page Lebih User Friendly
Berikut checklist sederhana sebelum landing page dipublikasikan:
- Tujuan landing page sudah jelas.
- Headline mudah dipahami.
- CTA mudah ditemukan.
- Informasi manfaat sudah tersedia.
- Visual relevan dengan produk.
- Font mudah dibaca.
- Warna konsisten.
- Navigasi sederhana.
- Tampilan responsif.
- Formulir tidak terlalu panjang.
- Loading halaman cukup cepat.
- Landing page sudah diuji.
Jika sebagian besar poin tersebut sudah terpenuhi, landing page akan memiliki dasar UI/UX yang lebih baik.
Kesimpulan
Cara membuat landing page yang menarik dengan prinsip UI/UX tidak hanya tentang memilih warna atau membuat desain yang terlihat modern. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan pengunjung dapat memahami informasi dan melakukan tindakan yang diharapkan dengan mudah.
Mulailah dengan menentukan tujuan, memahami target pengguna, membuat headline yang jelas, menyusun visual hierarchy, menggunakan CTA yang tepat, dan menjaga desain tetap sederhana.
Jangan lupa memastikan landing page responsif, mudah dibaca, cepat dimuat, serta memberikan informasi yang dapat membangun kepercayaan.
Pada akhirnya, landing page yang baik adalah landing page yang membantu pengguna, bukan sekadar halaman yang terlihat menarik.
Jika desain dibuat berdasarkan kebutuhan pengguna dan terus diuji untuk menemukan kekurangan, landing page dapat memberikan pengalaman yang lebih nyaman sekaligus mendukung tujuan bisnis.


